Bukan Hanya Pinjam Uang, Ini 6 Manfaat Lembaga Keuangan yang Jarang Disadari
29 August 2025
Banyak yang masih beranggapan bahwa manfaat lembaga keuangan hanya untuk mereka yang punya modal besar. Padahal, persoalan seperti gagal bayar dan investasi bodong sering muncul dari pengelolaan uang yang minim pemahaman.
Meski inklusi keuangan Indonesia sudah 80,51%, tingkat literasinya justru tertinggal di 66,46%.[1] Tanpa pemahaman, akses justru berisiko. Oleh karena itu, memahami manfaat lembaga keuangan secara menyeluruh menjadi keharusan, bukan opsi.
Mengapa Lembaga Keuangan Penting bagi Ekonomi?
Perputaran roda ekonomi tidak lepas dari sistem yang menopang di baliknya. Bukan hanya sekadar institusi, peran lembaga keuangan dalam perekonomian bersifat sentral: mengatur aliran dana dari pihak surplus ke pihak yang defisit agar sirkulasi modal tetap hidup.
Pada 2023, sektor jasa keuangan menyumbang sekitar 7% terhadap PDB Indonesia dengan aset mencapai Rp34.000 triliun.[2] Sementara itu, kredit perbankan tumbuh 10,27% year-on-year pada kuartal I-2025.[3]
Angka ini mencerminkan bahwa peran lembaga keuangan tak hanya besar, tapi juga terus tumbuh, terlebih di tengah pemulihan dan ekspansi ekonomi pasca pandemi.
Fungsi Finansial yang Terabaikan Banyak Orang
Meski terdengar mendasar, fungsi lembaga keuangan bagi masyarakat belum dimanfaatkan secara optimal. Sekitar 69,9% orang Indonesia masih belum memiliki tabungan di bank, sebagian besar karena tak mampu menyisihkan pendapatan secara rutin.[4]
Padahal, lembaga keuangan termasuk perusahaan pembiayaan menyediakan akses untuk menabung dan meminjam serta melindungi aset hingga merancang masa depan dengan sistem yang aman dan transparan. Dari pekerja harian hingga pensiunan, semua bisa mengambil manfaatnya.
Selanjutnya, mari bahas lebih detail bagaimana lembaga keuangan memberi manfaat nyata di berbagai aspek kehidupan.
1. Mesin Penggerak Ekonomi dari Hulu ke Hilir
Kontribusi lembaga keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada skala individu. Lembaga ini menggerakkan sektor-sektor strategis melalui pembiayaan yang terukur dan tepat sasaran.
Kredit bank BUMN, misalnya, dialirkan ke industri pengolahan dan sektor pertanian dua fondasi penting bagi ketahanan ekonomi nasional.[5] Sementara itu, BPD aktif mendukung konsumsi rumah tangga yang menopang permintaan domestik.
Pertumbuhan kredit perbankan sebesar 10,92% per Oktober 2024 juga menandakan bahwa akses ke modal terus meningkat, sekali mendorong produktivitas, inovasi, dan daya beli secara menyeluruh.[6]
2. Mempermudah Akses Modal bagi Pelaku Usaha Kecil
Salah satu tantangan terbesar pelaku usaha kecil bukan hanya soal modal, tapi juga ketidaktahuan harus mulai dari mana. Lembaga keuangan menjadi jembatan untuk segmen ini.
Melalui akses pembiayaan usaha kecil, lembaga formal, terutama yang berbasis mikro dan non-bank, membuka jalan bagi pembiayaan yang legal dan terstruktur serta terjangkau.
Program seperti KUR menargetkan penyaluran hingga Rp300 triliun pada 2024, sementara Rp69,8 triliun telah berhasil mengalir ke lebih dari 8 juta debitur UMKM hingga kuartal kedua 2025.[7]
Akses seperti ini memberi napas panjang bagi usaha kecil untuk tumbuh tanpa harus berutang pada jalur informal berisiko.
3. Meningkatkan Inklusi, Bukan Sekadar Menambah Akun
Peningkatan inklusi keuangan nasional menunjukkan progres signifikan—dari 75,02% pada 2024 menjadi 80,51% di 2025. Namun, inklusi sejatinya bukan hanya soal punya rekening, melainkan benar-benar menggunakan layanan keuangan secara aktif dan bijak.[8]
Digitalisasi dan fintech, misalnya, memang memperluas akses. Namun, tanpa literasi yang seimbang, potensi risikonya juga besar. Lembaga keuangan, pada akhirnya, berperan dalam memastikan inklusi hadir dengan pemahaman, bukan angka semata.
4. Bukan Hanya Untung tapi Juga Melindungi Risiko
Saat bicara pengelolaan risiko keuangan pribadi, peran lembaga seperti asuransi, dana pensiun, dan tabungan berjangka jadi sangat krusial. Kehadirannya bukan hanya untuk menumbuhkan dana, tapi juga memberi perlindungan saat kondisi tak terduga datang.
Semester I-2024 mencatat rasio klaim asuransi kesehatan menembus 105,7%, menunjukkan tingginya kebutuhan atas perlindungan finansial. Ini menegaskan bagaimana lembaga keuangan membantu memastikan risiko hidup tak selalu berakhir dengan krisis ekonomi pribadi.[9]
5. Mendukung UMKM yang Berkontribusi Nyata
Pengembangan sektor UMKM melalui pembiayaan jadi kunci menjaga daya saing lebih dari 64 juta pelaku usaha kecil di Indonesia. Meski menyumbang sekitar 60% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja, banyak UMKM masih kesulitan mengakses modal.[9]
Lembaga keuangan, termasuk koperasi, lembaga mikro, dan fintech syariah hadir sebagai solusi pembiayaan yang lebih inklusif. Dengan begitu, usaha kecil bisa bertahan dan berkembang hingga berkontribusi dalam ekonomi nasional.
6. Menjaga Stabilitas dan Kepercayaan Ekonomi
Stabilitas sistem keuangan bukan sekadar urusan bank sentral. Lembaga keuangan berperan menjaga ritme keuangan nasional agar tetap sehat dan terkendali.
Saat NPL perbankan tercatat sebesar 2,25% pada kuartal I-2024[10] dan sektor properti menyentuh 2,72%,[11] tekanan jelas ada. Namun, cadangan devisa yang mencapai rekor USD 155,7 miliar dan IKK sebesar 127,7 menunjukkan kepercayaan publik tetap terjaga, karena ada sistem yang aktif mengelola risiko dari hulu ke hilir.[12]
Pilihan Finansial yang Dimulai dari Pemahaman
Lembaga keuangan dan literasi berjalan beriringan. Tanpa pemahaman, risiko justru semakin besar. Kini, banyak lembaga tak hanya memberi layanan, tapi juga berperan sebagai fasilitator investasi dan akses pembiayaan yang terarah. MUFDana hadir sebagai solusi legal dan cepat berbasis jaminan BPKB.
Pada akhirnya, literasi menentukan arah, dan keputusan yang tepat memaksimalkan manfaat lembaga keuangan. Ajukan dengan bijak, mulai sekarang.